Jumat, 02 Agustus 2013

malu makan bekal




tulisan ini berawal dari sebuah keprihatinan. ada hal yang mengakar dari dalam diri sehingga seseorang bisa merasakan malu. karena sudah jadi akar, maka hal ini agak sulit diurai, sebab seringkali menimbulkan pedih dan bekas memar. ibu saya menyebutnya njarem..
nyeri akan rasa malu susah hilang, tapi bukan berarti kita tak dapat mengusahakan sesuatu.
kali ini cerita kita soal bekal makanan.
suatu hari saya dan beberapa teman mengadakan reuni kecil. acara tersebut akan dilangsungkan di sebuah mall yang sudah disepakati bersama. saya tak bisa menganjurkan piknik ke ragunan atau piknik di taman manapun atau museum manapun untuk rendezvous kali itu. sebabnya banyak, di antaranya, enggak banyak orang punya pikiran seperti saya, yang suka main ke museum atau taman atau piknik bawa bekal sendiri. orang akan merasa repot untuk menyiapkan dan membawa bekal sendiri, merasa repot bila berpeluh dan tubuh kepanasan – padahal cara tubuh mendinginkan diri sendiri dengan berpeluh, merasa repot karena.. ya merasa repot saja. dan saya harus menghargai itu, minat orang berbeda.
menentukan di restoran mana kami akan bertemu pun memakan waktu tak sebentar. saya menyimak dari kejauhan, membiarkan komentar demi komentar berlangsung sampai gak ada yang komen lagi. akhirnya saya menyarankan ketemunya di foodcourt saja, sebabnya ada anak-anak kecil yang sedang senang lari-lari – makan di restoran tentu membatasi gerak itu, hal yang kedua adalah tak semua keinginan makan kita bisa terpenuhi kalau yang satu pingin makan itu dan yang satu pingin makan ini, sehingga foodcourt ideal dan praktis untuk kebutuhan banyak orang, karena menyediakan ruang untuk kita makan dan ngobrol panjang.
saya sering lupa bahwa berapapun usia kalian, ketika bertemu lagi dengan kawan sebaya, kamu hampir selalu merasa bukan berada di umurmu yang sekarang, melainkan tetap berada pada umur di mana kalian pertama kali berjumpa. tiba-tiba kami jadi remaja lagi.
buat saya – saya gak perlu urusin kata orang – foodcourt adalah ruang yang disediakan untuk kita makan. kalau mampu beli makanan yang ada di area tersebut ya silahkan. tapi numpang duduk untuk makan bekal sendiri seharusnya tak jadi masalah. tak perlu malu untuk bawa makanan sendiri dan memakannya. kecuali memang ada tulisannya : dilarang membawa makanan dan minum dari luar.
ada yang salah kaprah dalam kebiasaan kita menjatuhkan sangkaan.
orang mungkin menyangka mereka yang membawa bekal makanan sendiri dan makan di food court adalah mereka yang miskin, atau pelit, atau hemat. padahal ada banyak hal di luar itu.
ada banyak kawan-kawan yang autis, kawan-kawan diabetes, kawan-kawan yang alergi terhadap makanan tertentu (berapapun usia mereka) perlu membawa makanan mereka sendiri ketika bepergian. di dalam mall dan tempat civilized lain, seharusnya memang ada ruang publik yang menyediakan tempat untuk setiap orang makan bekal-nya sendiri.
setelah saya operasi tulang belakang, selama 2 tahun saya makan makanan kukus dan oatmeal, semua makanan itu tak berbumbu. setiap kali ada kawan mengajak bertemu di mall, tentu saja saya mesti bawa makanan sendiri. kalau ada yang bertanya : emang gak bisa makan di rumah? duh pertanyaan itu sungguh lucu. aktivitas saya padat, dan saya perlu bawa bekal makan sendiri, tak mungkin donk hanya untuk makan saya pulang ke rumah, di jakarta lagi, jarak tempuh 10 menit ketika jalanan lancar bisa berubah jadi 40menit sekali berangkat, dan itu terjadi hampir setiap saat.
membawa bekal sendiri tak ada hubungannya dengan miskin. kalau kamu masih merasakan itu, dan tak mau membawa bekal karena takut dianggap miskin, maka saya bersedih, sebabnya kamu sedang memberikan label pada diri sendiri tak layak, padahal setiap orang sungguh berharga. saya harap kamu enggak keji lagi terhadap diri sendiri dengan membiarkan pikiran buruk mempengaruhi suasana hatimu. saya harap kamu lebih tegak dan lebih mampu melihat banyak hal dalam perspektif baru.
mengapa keji? karena setiap kali kamu melabelkan diri dan bertingkah bahwa diriku tidak cukup berarti, ketika kamu memikirkan pendapat orang lain dan merasa sedih serta malu karena dikasihani setelah ketahuan kemampuan finansialmu, itu adalah moment ketika kamu membenamkan dirimu makin dalam, karena merasa malu. orang merasa malu boleh, itu sesuatu yang wajar, tapi tak perlu lama-lama dan carilah pengertian yang lebih dalam tentang mengapa saya mesti malu.
menurut saya, menjadi maling dan koruptor itu lebih memalukan.
perasaan sebagai orang miskin (dalam hal ini tidak memiliki cukup dana untuk keberlangsungan hidup) memang menggerogoti jiwa dari banyak aspek. tidak mudah membicarakan hal ini, sekaligus tidak mudah menghadapinya dalam kehidupan keseharian. saya bisa memahami.
 satu hal yang seharusnya disadari tiap orang adalah menjadi miskin atau tak berpunya secara materi tidak menyebabkan seseorang kehilangan kemampuannya bernalar, tetap memiliki akal sehat dan attitude yang baik. tidak apa-apa menjadi miskin itu sebetulnya selama kita tahu bahwa diri ini punya harga. miskin kan cuma situasi, tak akan berlangsung selamanya. perasaan sebagai orang miskin juga relatif. sederhananya begini : kalau uang jajanmu sehari seribu rupiah sementara kawanmu yang lain seratus rupiah tentu saja kamu lebih punya cukup uang untuk dibuat jajan, tapi bila dibandingkan kawanmu yang lain dengan uang jajan sepuluh ribu rupiah sehari, kawanmu itu yang lebih punya cukup uang untuk dibelanjakan.
buat saya, kesadaran tentang strata sosial itu hanya membikin bias cara pandang kita terhadap diri sendiri. sebabnya kita jadi sering lupa bahwa attitude lebih penting dari uang yang kita miliki sehari-hari. menurut saya  attitude adalah karakter yang kita bawa dalam situasi yang macam-macam.
perasaan bahwa diri ini miskin membikin kita jadi vulnerable, jadi lemah dan mudah dilukai atau merasa terluka secara psikis, emosi, dan mental. profesor brene brown punya obrolan yang menarik tentang vulnerability dan listening to shame yang bisa kamu tonton dan unduh dari youtube, ada dalam channel tedtalks. tidak ada terjemahan indonesia-nya tetapi kamu bisa mampir ke website tedtalks untuk lihat video itu dan cari language translate supaya muncul running text dalam bahasa indonesia, saya harap kamu sedia waktu untuk selalu isi diri sehingga makin asik kenal diri sendiri dan bisa hidup lebih optimal lagi. dia bilang vulnerability is a birth place of innovation, creativity and change. itu mudah-mudahan membantu setiap orang menggenapi dirinya sendiri dan sadar tentang being.

http://www.youtube.com/watch?v=iCvmsMzlF7o  silahkan mampir ke sini ..
sejak kecil saya selalu bawa bekal makanan ke sekolah, ke tempat kursus, ke mana pun saya bepergian. karena dibiasakan, saya tak melihat ada yang aneh dari perilaku membawa bekal makanan, tidak ada yang aneh dengan makan bekal itu di mana pun saya merasa lapar dan punya tempat agak legaan untuk menikmati bekal.
saya ingat lama berselang ketika jaman-jamannya kuliah semester awal. ada waktu jeda yang panjang dari kelas yang satu ke kelas yang lain. kampus tempat saya kuliah berada di kawasan yang banyak mall-nya. saya dan sahabat saya A akhirnya sering menghabiskan waktu di plaza S******. beberapa orang kawan sekelas sering ikut serta. biasanya kami menghabiskan waktu di foodcourt sambil cerita-cerita. saya sering sedih dan prihatin setiap kali duduk di meja foodcourt dan melihat makanan tak dihabiskan serta penuh dengan puntung rokok. saya sering ketemu makanan dari tamani express dan makanan mahal lain tak tersentuh, penuh abu. saya merasa banyak orang tak menghargai hidup. di tahun 2005, paket makanan tamani express sekitar 50ribu belum termasuk tax, ongkos bis kota masih 2ribu rupiah. hal ini membikin saya khawatir.
suatu hari sedang musim durian. saya dan A pergi ke supermarket di lantai basement plaza S****** untuk membeli sejuring durian dan beberapa nyamikan. kawan kelas saya yang bernama C dengan nada mencemooh berkata, “mau lu makan di mana tuh durian? dibawa ke kelas?” A menjelaskan bahwa kami akan memakannya di foodcourt dan C merasa kaget karena ide tersebut. menurutnya orang enggak boleh makan makanan di luar yang dijajakan di arena foodcourt. saya lantas bertanya, “terus kita seharusnya makan di mana donk, kalau kita ada di dalam mall dan enggak pingin makan di dalam restoran atau apapun yang berjejer di foodcourt.”
intinya saya dan A tetap makan itu durian di foodcourt.
kejadian di foodcourt lama silam mengantarkan saya ke banyak pemikiran, saya perhatikan orang-orang dan membayangkan banyak situasi.
saya sedang membayangkan seandainya (hal ini memunculkan imajinasi), bila ada reuni yang dilangsungkan di foodcourt dan seseorang sedang tak punya uang padahal dia sungguh ingin datang, untuk berkata : heiii..kalian apa kabar..
apa yang terjadi...
seseorang jadi diberi label bahwa dia kurang berhasil bila membawa bekal makanan sendiri dan dianggap tak mampu membeli makanan di luar, hal ini sering tak disadari sudah tertancap dalam. kemudian pengertian yang keliru ini dijejalkan sehingga membikin orang-orang yang kurang menyadari betapa berharganya diri sendiri itu, merasa semakin tertekan karena takut dianggap tidak berhasil, tidak berduit, sehingga bawa bekal sendiri. dengan ganas dan gawat mereka menghukum diri sendiri karena pandangan seperti ini.
atau gandakan situasinya, dalam reuni tersebut kalian sudah memiliki momongan dan situasi finansial sedang buruk.
please .. jangan menelantarkan anak dengan membiarkannya lapar meskipun dana yang disediakan untuk jalan-jalan terbatas, please..don’t do that.
kalau kamu punya anak dan keadaan finansialmu tak begitu baik kemudian ada reuni macam itu, mengapa tak membawa bekal untuk anakmu. anakmu tetap bisa makan cukup dengan makan bekal dari rumah, kan enggak ada larangan untuk itu. kamu juga bisa bawa bekal sendiri dan memakannya di foodcourt.
 orang tidak menghina mereka yang bawa bekal sebagai orang yang tak mampu atau pelit. (kalaupun ada yang menghina, ya sudah tak masalah, anggap saja keterampilan sosial mereka enggak lengkap, enggak mampu berempati dan merasakan jadi orang lain..atau.. mereka kurang cerdas saja, enggak punya imajinasi yang cukup tentang banyak hal...tenang saja..teruskan makan bekalmu.)
kawan-kawan dengan kedekatan massif tahu bahwa saya terampil memasak dan selalu bawa bekal sendiri. sebabnya saya sering diare. enggak setiap makanan yang ada di mall atau dimanapun saya berada sesuai dan cocok dengan selera saya. selain itu sering enggak dijual makanan yang saya mau, seperti dimsum babi yang enak, tumis lidah cabe hijau, lumpia semarang yang cocok dengan lidah saya, anything. dan yang lebih penting lagi adalah saya bisa mengatur porsi makan saya.
kemarin saya mampir main ke S****** C***, mau nonton the lone ranger dengan 2 kawan. kami ketawa-tawa ingat jaman-jamannya kuliah dulu. mall seperti rumah kedua selain kampus dan rumah sendiri. kami hafal detail-detail terkecil mall tersebut saking terlalu sering berada di sana. jam makan siang foodcourt penuh. saya perhatikan orang makan ayam lagi ayam lagi. nasi, ayam goreng tepung dan coca cola. sudah 7 tahun saya enggak makan begituan dan enggak kepingin cobain lagi, kalau kamu masih makan sih enggak apa-apa, enggak ada tujuan menghina, yang saya maksud, bertahun-tahun main di mall itu saya belenger lihat ayam goreng pak kolonel. dengan uang yang sama buat saya lebih asik bawa bekal dari rumah : air putih, nasi, sayuran kukus dan lauk apapun, bisa buat 2 orang lagi, lebih hemat.
karena foodcourt penuh akhirnya dapat duduk di tempat paling pojok, hari itu saya bawa bekal nasi dengan rica-rica babi dan potongan ketimun. seperti biasa berbagi bekal dan ngobrol tentang hidup setelah kuliah dan rencana saya yang akan kuliah lagi. kami tertawa-tawa. perkara lauk yang saya bawa hari itu agak enak, itu kebetulan, sebabnya saya enggak malu bawa nasi putih dengan sambal kecap dan tahu telur atau nasi putih dengan oseng kacang panjang tempe semangit.
spot tempat kami duduk asik, terang dan lega, bisa lihat jalanan asia afrika. dari kejauhan kami memperhatikan hujan turun dan kabut datang, indah banget. kami bertiga lantas bilang : jakarta dingin nih 4 hari ke depan.
kalau orang lain seneng jakarta dingin saya malah ngeri, sebabnya alam bergejolak dan bumi makin rusak. enggak tahu kapan manusia punahnya..justru karena hal itu belum terjadi saya makin yakin bahwa bawa bekal sendiri itu asik, bisa berbagi dengan kawan, icip-icip 2 sendok 2 sendok. saya makin sadar, bahwa teman adalah keluarga yang kita pilih.
kamu enggak akan pernah tahu, selalu ada seseorang yang bersyukur dan ingat akan rumah, setiap kali kamu membagi bekalmu – membagi masakan rumahanmu.
saya punya kawan seorang anak rantau. (dulu – sekarang dia sudah di benua eropa dan sudah berkeluarga) dia selalu memandang saya dengan mata berbinar setiap kali saya berbagi bekal di food court menunggu jam masuk kelas berikutnya. suatu hari bertahun kemudian setelah kami sering makan bareng dia berkata : R, mungkin elu enggak tahu, tapi gw terimakasih banyak. setiap elu bagi bekal ke gw, gw selalu teringat nyokap. itu bikin gw bersyukur masih punya nyokap, masih semangat kuliah dan menghargai pengorbanan dan perjuangan orangtua gw untuk membikin gw jadi orang kuliahan. jauhnya jarak gw sama nyokap bikin gw menunggu waktunya pulang, untuk meluk nyokap gw dan makan masakan dia yang selalu gw tunggu-tunggu selama merantau sekolah di sini.  –well, memang kata-katanya tak persis seperti itu, tapi kira-kira begitulah pesan yang saya tangkap –
saya jadi teringat kawan saya jalan-jalan, mereka sering request minta dibuatkan bekal. che sering bilang, bawa isian sandwich yang enak donk, nanti gw beli roti tawarnya – setiap kali kami mau hangout ngobrol di minimarket 24 jam yang menjamur di jakarta – tentu kami juga belanja nyamikan lain di situ biar enggak diusir karena hanya numpang duduk doank. saya ingat kawan ngebolang saya, namanya PU, dia bilang begini waktu kami mau mampir main ke fathahillah : R, gw bawa nasi goreng, elu bikin  martabak, nanti A bawa minumannya.

tapi harus diakui juga, meskipun sudah niat bawa bekal makan sendiri kadang kita gak selalu punya tempat untuk memakannya. itu dia yang bikin prihatin. kita kurang area publik untuk bisa menikmati bekal sendiri.  ada banyak juga mall yang pelit foodcourt, hanya ada restoran dengan tulisan tak boleh bawa makan dari luar.
suatu hari simbak di rumah cerita bahwa esok hari anaknya akan piknik dengan kawan-kawan sekelas ke taman mini. dia menumpang untuk menitip mendinginkan nugget dan minuman dingin di dalam kulkas keluarga kami. keesokan paginya dia tak datang mengambil rencana bekal itu. ketika bertemu lagi esok lusanya saya tanyakan hal itu kepadanya. dia bilang anaknya malu bawa bekal dan kepingin jajan saja seperti kawan-kawannya. padahal saya tahu si ibu sudah membeli nugget yang enak dan jarang dimakan keluarga itu, mendinginkan minuman rasa buah supaya beku dan tahan dinginnya untuk dinikmati si anak di hari piknik.
terus terang saya sedih, setiap kali membawa bekal sendiri diasosiasikan dengan tak berpunya sehingga gak bisa jajan beli makanan di luar. tapi si anak juga tak salah, sebab ia ingin tahu rasanya jajan.
sahabat saya M adalah orang berpunya, makan di cafe cartell biasa buat dia. suatu hari kami akan dinner di sebuah mall di jakarta. di dalam mobil anaknya yang balita tetap disuapi nasi dengan telur dadar dan kecap, supaya tak masuk angin, dalam perjalanan menuju mall. kalau kamu tinggal di jakarta, perjalanan dari bintaro ke pondok indah bisa makan waktu 2 jam lebih di jam macet, ngalahin jam perjalanan jakarta bandung dengan travel, jadi si kecil tetap perlu disuapi di dalam mobil. see that..enggak apa-apa makan sederhana dan bawa bekal itu.
orangtua murid waktu saya mengajarkan les privat juga demikian, dia super duper berpunya, saya sering diantarkan pulang dengan ibunya. si ibu memakan bekal di dalam mobil mewahnya, makanan sederhana sayur kukus dan tim ikan. dia bawa dan makan bekal sendiri.
enggak ada hubungannya kaya dan miskin soal bawa bekal. mengapa malu. ini cuma soal attitude aja.
pulang dari nonton lone ranger, perut berbunyi. 2 kawan saya gak mau makan di restoran. mereka pilih makan di rumah saya. akhirnya kami belanja dulu kebutuhan masak di foodhall, mau masak sederhana tapi habisnya banyak juga. kemudian kami pulang dalam terpaan hujan deras. setibanya dirumah meracik makanan bareng-bareng sambil bilang : foodhall mahal cuyy...carefour lebih murah..
ya iyalaaahh..
malam-malam makan club sandwich sampai perut mau meledak dan nge-bir..
ahh..hidup..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar