Tampilkan postingan dengan label singgah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label singgah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Agustus 2012

peri di kuntum lili





Setiap hujan datang menjelang pagi, selalu ada perasaan sunyi sekaligus kegaduhan di kepalaku. Sekuat apapun aku menghalau kamu dari pikiranku, kamu selalu muncul dan menimbulkan sesak yang tak datang sebentar. Apa yang lebih meyedihkan ketimbang sebuah suara sayup-sayup di dalam hati, yang selalu kamu coba untuk sangkal, suara yang ingin berujar kamu apa kabar.
Kamu apa kabar # you

Aku kehilangan benang perak pemberian peri di kuntum bunga lili. Aku sedih sekali, sebab musim penghujan nanti dia akan datang ke kuntum bunga lili lagi. Aku selalu tahu kuntum yang mana, meskipun ada lebih dari ratusan kuntum bunga di padang belakang dekat aliran air. Kamu harus berdiri di pinggir gerumbul semak pandan yang sebelah kiri, dan kamu harus memicingkan matamu yang sebelah kanan, dan kamu akan tahu, kuntum lili tempat peri singgah di musim penghujan nanti.
Kelak aku tahu peri itu datang jauh dari barat daya. Dia diterbangkan angin melintasi gurun karena debu peri miliknya telah habis, kepayahan demi kepayahan dia alami, terdampar dan menunggu. Dia mengandalkan mimpi untuk membuatnya terus merasa yakin bahwa suatu hari situasi ini akan berganti, dan pada hari-hari seperti inilah dia memilih untuk berhenti mati. Aku membayangkan betapa kecil dan rapuhnya dia,sendirian dan tak selalu berhasil mengatasi perasaan serba lelah. Ketika aku membayangkannya, aku mengerti pilihannya untuk berhenti mati, dengan bermimpi. Tapi ini adalah sejenis kepedihan yang lain. Sebab kita sama-sama tahu ada waktu yang terus hilang dan seringkali kita tak bisa ingat tentang hari-hari yang sudah berlalu. Hampa.
Pengertian itu tak muncul seketika.
Musim penghujan di sini hangat, demikian ujarnya di suatu hari kelabu, sewaktu aku meringkuk menyembunyikan tangisku.
Aku tanya sama dia, kamu dari mana? Apakah kamu kenal Peterpan, mataku pastilah membeliak. Apakah kamu berteman dengan Tinker Bell? Betulkah Neverland itu ada? Aku membayangkan diriku terbang hingga pagi mengikuti arah sinar bintang kedua di sebelah kanan.
Mengapa manusia harus merasa sakit, apa arti pedih? Apakah kamu bisa sedih, apakah kamu menggembol terus sedihmu tiap waktu?
Dia mengernyitkan hidung dan terlihat begitu prihatin menghadapi aku. Kemudian tertawa. Tawanya mengingatkan aku akan bunyi lonceng dan giring-giring, suara dari masa laluku, waktu aku masih memutuskan untuk percaya. Aku memperhatikan dia sungguh-sungguh, dia sangat cantik dan tampan sekaligus. Berdiri di telapak tanganku, ringan seperti bulu, hancur dalam sekali remasan tangan. Waktu itu aku menyadari, akulah yang rapuh dan seringan bulu, yang tak punya kekuatan untuk menyatakan suaraku sendiri, kebebasanku sendiri.
Aku ingin cerita tentang Santa, aku selalu suka menunggu Desember.
Santa siapa?
Santa Klaus. Yang tinggal di Kutub Utara.
Waktu kecil aku menulis surat pada Santa Klaus. Aku bilang padanya aku ingin diberi hadiah udara dari Kutub Utara yang dimasukkan ke dalam botol kristal. Supaya kapanpun aku merindukan natal, aku bisa membuka tutupnya dan menghirup udara Kutub Utara. Sebab Natal menyenangkan dan tak perlu merasa sedih, itu adalah gagasan yang cemerlang, tidak perlu merasa sedih. Aku percaya Santa Klaus punya tempat riset yang lebih canggih dari segala tempat riset di dunia, karena itu aku percaya udara dalam botol kristal ini tak akan pernah habis meskipun telah dihirup berkali-kali, dan botolnya tak akan pecah berkeping-keping, seperti hatiku yang seringkali terasa ngilu karena pernah pecah dan tak utuh lagi. 
Apakah sia-sia.
Apanya?
Keyakinan itu.
Apakah keyakinan.
Kami tak bisa menjawabnya hari itu.
Dia memberiku segulung benang perak. Benang itu adalah benda yang sangat berharga, demikian ujarnya. Dia telah berkelana selama seribu satu tambah satu waktu peri, dan dia bilang jangan tanya apakah waktu peri itu, pokoknya itu adalah waktu peri. Aku mengamati benang perak tersebut dan dia menuturkan bahwa benang itu adalah benang terkuat di seluruh semesta.
Mama bilang aku gak boleh percaya pada orang asing, mengapa kamu memberikan aku benang perak ini, sebab aku asing bagimu.
Mengapa kamu bilang benang perak itu sangat berharga, memangnya bisa menyumbat sedih? Bukankah ada yang lebih berharga ketimbang apa yang kita kira berharga hari ini?  Seperti jiwa misalnya.
Si peri menatapku lagi-lagi dengan wajah prihatin, apakah kamu selalu curiga terhadap pemberian orang lain? Aku menjawab, bukankah seharusnya begitu, bukankah selalu ada nilai tukar (aku hampir-hampir tak percaya telah menyatakannya). Dan bukankah kita perlu curiga?
Kamu tahu rasanya dipermainkan? Kamu menunggu ditarik keluar dari lubang, kamu merasa kamu selamat, tapi sebetulnya kamu dirantai di lehermu dan kamu tak melihatnya, mungkin sesekali kamu melihatnya tapi pengertian itu belum tiba, kamu betul-betul merasa tidak apa-apa. Ketika pengertian itu tiba kamu bersedih dan merasa sangat buruk, barangkali ada marah, tapi tak cukup untuk membikinmu memiliki dirimu sendiri. Selalu ada yang bungkam di luar sana. Keheningan itu terasa begitu mengganggu.
Dia diam. Dan aku gemetar menghadapi gagasanku sendiri. 
Di mana kamu mendapatkannya, tanyaku, mengalihkan pikiranku sendiri . Oh, itu adalah benang perak buatan nyonya laba-laba. Aku menemuinya di tepian dunia, di hari ke duaratus empatpuluh lima waktu peri.
Apakah nyonya laba-laba temanmu?
Apakah kamu memang selalu banyak bertanya? Dia menjejak-jejakkan kaki pada telapak tanganku. Itu sudah kebiasaanku, mau bagaimana lagi, ujarku dengan bersungguh-sungguh.
Mengapa kamu berhenti di sini?
Dia menjawab dengan diam.
Kamu akan lama di sini? tanyaku.
Aku belum memutuskan.
Aku lihat dulu apa yang akan terjadi besok.
Apakah kamu tahu kamu siapa?
Aku peri. Dia tertawa, tawa yang menentramkan hati. Apa kamu tak tahu kamu siapa?
Aku diam saja, si peri itu jelas tak mengerti susahku, sebetulnya aku tahu bahwa dia tak harus mengerti susahku, tapi aku berpikir, barangkali dia bisa mengerti sesuatu di luar mengertiku. Apakah kamu tahu kamu siapa.
Langit di atas tiba-tiba keruh dan serbuk hujan berhamburan.
Aku menyukai hujan. Dan biarkan aku sendiri dalam kesepianku, demikian dia berkata seperti menyuruhku untuk lekas pergi.
Tapi besok kamu betul-betul masih akan di sini kan.
Aku pulang menuju rumah menangis tersedu karena merasa sebentuk perasaan ganjil muncul. Berharap besok pagi dia masih di sana.
Sambil berjalan pulang aku memikirkan diriku. Berusaha sekuat tenaga untuk mengingat-ingat dan merasa sangat pusing serta lapar. Muncul sepenggal kesadaran tentang diriku sendiri. 


Aku adalah gadis yang ingin menangkap bintang jatuh menjelang subuh. Telah berhari-hari aku tak dapat tidur karena kesedihan menghimpit dadaku. Aku telah menunggunya sepanjang tahun, bintang jatuh itu. Kadang-kadang mimpi itu datang.
Pernah simbah berkata bahwa di hari ketika ekor bintang dalam dekapku, detik itu, hanya didetik itu, aku bisa menangkap sinar rembulan dan memasukkannya ke dalam botol kristal. Hari ketika hal ini dapat terjadi akan menjadi hari yang indah. Simbah lupa mengatakan bahwa hal ini sulit jadi mungkin. Padahal aku ingin bersih dari ingatan menyedihkan.
 Jangan menangis, ujar simbah. Ia menguntai kalung mutiara bagiku, itu adalah kilau yang indah, dalam telapak tanganku berpendaran. Ia membuatnya dari sinar bulan.
Aku ingin bilang pada si peri bahwa aku mengalami banyak sekali malam-malam masokis, melukai diriku sendiri, merasakan sebentuk kemarahan dan kekejian yang membikin aku muak terhadap diriku sendiri, dan dengan demikian punya keberanian untuk mengampuni diri. Sayangnya perasaan termaafkan seperti ini jarang bertahan lama, aku selalu merasa perlu terluka.
Suatu hari aku melihat seorang laki-laki dari kejauhan. Aku pikir dia kesepian. Dia seorang diri. Aku bisa menduga dia juga menyimpan pedihnya sendirian, seperti aku, yang seharusnya siap merayakan hidup. Ada perasaan senasib yang sama. Bersamaan dengan munculnya pengertian itu, aku juga merasa bahwa dia sengaja membawa impian tentang pasar malam dalam benaknya, kapan saja, ke mana saja, membayangkan ada tawa berhamburan. Barangkali seperti aku, impian itu  menguatkan dia untuk melanjutkan perjalanan.
Mungkin dia mau diajak bertukar cerita.
Malam itu hujan datang lagi menjelang pagi.  Di kamarku, ada dunia kecil milikku sendiri. Dan ada kehidupan di luar sana, yang tak mudah untuk dimengerti.

Senin, 06 Agustus 2012

Puss





Ada kucing perlente, dia mengenakan sepatu boots. Tapi bootsnya bukan keluaran Doc.Marteen. Waktu kecil aku merengek minta dibelikan mama sepatu boots Doc.Marteen sementara kawan-kawan sebayaku sedang asyik dengan sepatu LA Gear yang  berkelap-kelip.
Aku kepingin dapat perhatian dari kakak kelasku Yoel. Dia gak ganteng tapi cerdas luar biasa, tak peduli pada sekitar dan itu yang membuatku gemas. Kami beda tiga tahun, dia kelas enam dan aku kelas 3 SD. Aku membuntuti dia di setiap jam istirahat. Dia suka ke perpustakaan. Suatu hari ia meminjam serial buku Rumah Kecil di Rimba Besar-nya Laura Ingals. Aku tak mau kalah dan ikut meminjam Anak Tani. Bu Erna penjaga perpustakaan heran ketika aku meminjam buku tersebut, katanya, kamu masih kecil sudah kuat baca begini? Buku itu agak tebal untuk bacaan anak seusiaku, umurku baru menjelang sembilan tahun waktu itu.
Per dua minggu aku menghabiskan membaca satu buku dari serial Rimba Besar, pelan-pelan, seperti menikmati menjilati lollypop sedikit-sedikit supaya manisnya tidak habis-habis. Setelah selesai membaca serial Rumah Kecil di Rimba Besar, aku berketetapan hati ingin menjadi penulis seperti Laura bila besar nanti. Laura memulai ceritanya dengan :
Suatu ketika, enam puluh tahun yang lalu, adalah seorang gadis cilik yang tinggal di rimba besar, di daerah Wisconsin, dalam sebuah rumah kecil kelabu yang terbuat dari balok-balok kayu. Pohon-pohon raksasa yang tinggi besar dan rindang mengelilingi rumah itu.
Aku ingin sekali bisa berada di Wisconsin, pada masa Laura hidup, bisa menjadi kawan permainannya. Merasakan datangnya musim dingin, pesta dansa dan meminum sirup mapel, mendengar lolongan serigala dari kejauhan, pokoknya aku suka membayangkan menjadi Laura.
Seingatku, karena tersihir oleh Laura, aku jadi kelupaan sedang naksir dengan Yoel. Pada satu kesempatan, berbulan-bulan setelah serial Rimba Besar itu tuntas aku baca, akhirnya bisa juga kami duduk berdua, bercerita tentang Almanzo dan Laura, tentang Wisconsin dan Minnesota. Itu cinta monyet yang lucu, rasanya bisa duduk berdua dengannya itu menyenangkan sekali.
Kami berjanji akan sering-sering bertemu di perpustakaan, besok-besok kami ingin tenggelam dalam dongeng-dongeng Grimms.
Ternyata Yoel tak suka kucing, apalagi yang bersepatu boots. Yoel suka gadis yang usianya sebaya, potongan rambutnya mirip Bibi Leung di serial Return of Condor Heroes-nya Andy Lau, wajahnya pun mirip. Aku memusuhi dia dan menenggelamkan diri dalam dongeng-dongeng Eropa.
Selain Cinderella, kucing bersepatu boots adalah cerita yang menarik. Sebab si kucing cerdik dan kepingin dianggap berguna. Padahal dia tak perlu bersusah payah demi kemujuran si tuan, anak ketiga pemilik penggilingan yang kehilangan semangat, dia bisa saja minggat dan hidup sendiri – si kucing itu, dengan keterampilan melobi dan berburu yang ia miliki. Kalau dipikir kucing ini agak bloon juga. Oh ya kelak tuan itu bernama Lord of Carabas.
Setiap hari kucing bersepatu boots mengirimkan hadiah untuk baginda raja. Ia mengatasnamakan Lord Carabas untuk kiriman-kiriman tersebut. Raja tersentuh. Orang mudah berubah loyal untuk orang-orang yang bisa mengambil hati, si kucing memenangkan perhatian Raja. Raja kepingin tahu lebih jauh tentang si Lord Carabas ini.
Singkat cerita, putri raja menikah dengan Lord Carabas, bukan ini masalah yang serius.  Si kucing ini pandai sekali mengkondisikan segala sesuatu dan ia begitu menyeramkan. Ia mengancam sekumpulan orang, dikisahkan kibul-kibulan itu berhasil. Dari kejauhan sebelum karavan raja melewati perladangan, si kucing berlari sambil berteriak-teriak :
good people,you that reap. if you do not tell the king that all this corn belongs to lord marquis of carabas, you shall be chopped as small as herbs of the pot!!
Tentu tak ada yang mau dimutilasi. Suasana di ladang pastilah mencekam dan mereka memilih untuk tak menolak.
Setelah membodohi banyak orang, si kucing dengan keberanian yang tak hilang datang ke kastil. Ia telah mempunyai rencana dan begitu percaya diri. Ia mengetuk pintu dan menjual kata-kata. Ia berhasil mempermainkan si Ogre busuk. Ia menyantap si ogre busuk yang telah berubah jadi tikus dengan kelihaiannya mengumbar kata. Aku heran dia tak mati mbeledug karena perutnya terisi si ogre busuk. Barangkali bersilat lidah itu ampuh untuk mendatangkan keajaiban, lepas dari maut dan petaka.
Cerita ini dikisahkan Perrault pada tahun 1697. Ada banyak anak dari masa ke masa mendengar cerita ini. Betapa tuanya bumi yang kita tinggali. Orang-orang datang dan pergi, lahir dan mati. Di Italia ada cerita serupa. Perrault bisa saja sudah mendengar. Ada rentang 63 tahun sebelum Lord Gagliuso bertemu muka dengan Lord Carabas. Kita tahu sebenarnya mereka berdua bukan sungguh-sungguh Lord.
si Lord Carabas ini agak memalukan menurut pendapatku, bahkan maling saja perlu bekerja.

the conversation, it is




[22:06]    gimana kabar? ada cerita menyenangkan apa hari ini
[22:06]  masih tetep nyinyir
[22:07]    malcolm gladwell-nya udah sampai mana? 
               nanti aku pinjemin what a dog saw kalau outliers-nya udah selesai. 
               btw, aku lagi nonton ulang capote sama infamous,  
               kok ditonton duakali aku masih belum ngerti ya, bodoh banget aku, 
               tapi phillip seymour ngegemesin banget  jadi capote..pengen aku tamparin, 
               karena ccuuuaaaapppeekkk banget dengerin dia ngomong apaan !!! sumpah !!
[22:09]  kemarin aku baru selesai baca breakfast at tiffany- nya kamu.
[22:10]   aku belum pernah bisa dapet filmnya, tapi kamu harus lihat di youtube, ada sepasang
               perempuan dan laki-laki, nyanyiin cover versionnya moon river itu indaaaahhh banget,
               berasa jantungku disilet-silet pelan- pelan... umm... the honey tree kalau gak salah,
               coba searching mereka..
[22:10]  eh
[22:11] kenapa?
[22:11]  enggak..ini tiba-tiba di radio ada lagunya elton john 
              yang written in the stars.. sebentar..sebentar
[22:12]  kenapa
[22:12]   nyesek banget liriknya
[22:12]  jangan dipikirin
[22:13]   kepikiran jadinya. pedih banget.
[22:13]   hardest day-nya the corrs juga nyesek, 
              ni kenapa radio muterin lagu patah hati  deh..malem- malem begini..
               aahh stupid..ngerusak mood aja
[22:18]   ada purnama merah jambu, dari kejauhan aku lihat siluet kucing bersepatu boot bawa gitar
[22:18]  wahh aku ngelihat anak kecil mancing dan duduk di bulan sabit
[22:20]   mungkin si anak kecil itu mau cariin ikan buat si kucing, soalnya si kucing sudah baik mau
               menghibur hati dia, sewaktu gak ada siapa pun yang bisa menolongnya menemukan 
               benang perak pemberian peri di kuntum bunga lili.
[22:21]  tapi si anak itu panggil-panggil terus si kucing....pusss...pusss... ini ikannya sudah   
               ada..kamu di mana
[22:21]   mereka gak bisa ketemu
[22.22]    karena purnama merah jambu gak pernah bisa ketemu bulan sabit berlangit biru..dan dia
                merasa biru..
[22:24]   siapa cowok yang bikin hati lo bimbang kali ini,nona jagoan yang tak mudah bersedih
[22:24]    butuh tau banget, kenapa emang
[22:24]   just asking.
[22:25]    wahhh perhatian banget sampai tanya-tanya segala, kenapa emang
[22:25]   gak papa semoga kamu betul-betul bahagia
[22:25]    ahhh baiknya kamu..dasar gombal
[22:27]    kamu sendiri gimana
[22:27]   apanya
[22:27]    apa harus diterangin lagi
[22:27]    ahahhahaaa
[22:30]    yang perlu kau lakukan untuk mencium seseorang 
              hanyalah mencondongkan badan – breakfast at tiffany.
[22:34]    Holly bilang : kurasa tidak akan ada yang
                merindukanku, aku tak punya teman. 
                Padahal sesungguhnya ada yang merindukan dia,
                betul-betul merindukan dia.
[22:36]    A conversation is a dialogue, not a monologue. 
               That's why there are so few good  conversations 
               : due to scarcity, two intelligent talkers seldom meet. Truman Capote.
[22:38]    mungkin gak ya kamu bilang ke aku : do you wanna sleep with me..
[22.38]    apa jadinya kita yaa..
[22:40]   kita jadi apa yaa..

it's not simple as stopping by





 Aku seperti mendengar suaramu. Melecehkan dan menggurui, bersemangat dan membikin jengah meski aku mengetahui kamu begitu tulus ketika mengungkapkannya. Aku seperti mendengar suaramu bersama kepalan tinjumu pada pundakku. Di luar hujan sayang. Aku selalu ingin memanggilmu sayang. Tapi kita berdua tahu hal-hal bahagia harus dihentikan. Itu saja. Aku teramat merindukanmu ternyata.
Hari ini aku membereskan kamar. Menemukan banyak catatan dan sobekan-sobekan kertas. Benda-benda yang justru makin mengingatkanku padamu. Aku tertawa pada diriku sendiri. Sebab ini bukan kamarku. Ini adalah ruangan tak terpakai pada sebuah kantor. Hidupku yang nomaden. Menumpang di sana sini. Pindah ke sana ke mari. Sering kehilangan benda-benda yang kusukai.
Aku memperhatikan ruangan ini : segulung matras, tas buluk di pojok ruangan, peralatan mandi, pakaian seadanya – sebagian dari kamu, buku-buku yang tidak banyak dan dibeli dengan perjuangan, gelas hadiah dari toko, lima bungkus mie instan, satu toples kecil gula dan kopi, satu bungkus havermouth dan sekardus susu bubuk yang belum habis milikmu, setumpuk sobekan kertas di sana-sini yang kubendel dengan karet gelang, buku jurnalku yang sering kamu tertawakan, laptop yang belum kamu ambil, lotion yang selalu kamu gunakan. Aku merindukanmu teramat sangat.
Buku pemberianmu belum selesai ku baca. Aku membayangkan wajahmu yang bersemangat dan berujar : gimana...gimana menurut lo.. gilaakk kan tuh.. sarap tuh orang!! Aku seperti mendengar suaramu sayang. Suaramu yang nyaring riang dan menyebalkan. Memojokkanku dan membikin aku menyadari betapa bedanya kehidupan yang kita jalani. Begitulah.
Aku melihat tumpukan dvd bajakan yang kamu rekomendasikan untuk ku tonton. Aku seperti mencium harum rambutmu. Suaramu yang jadi jengkel dibarengi dengan tumpahnya setetes airmata : gw gak keberatan jadi gendut..sama sekali enggak..menurut lo Gilbert jahat gak? memangnya cuma itu pilihan yang dia punya..itu nyakitin tau gak...gw lebaii ya Tur...
Kita tonton What’s Eating Gilbert Grape berulang kali. Hidupku hampir mirip Gilbert, sebelum aku jumpa kamu. Penat dan kebingungan. Terlalu menjemukan.
Ahh sayangku..
Hari ini aku membaca ulang catatan-catatan usang. Bayangmu seringkali melintas. Nyengir sendirian karena aku tahu kamu akan mengejekku : bussettt waktu Indonesia bagian galau-nya udah mulai yaaa...
Udahh..gak usah nangis nyet.. gak macho banget deh lo!! Aku seperti mendengar suaramu sayang, seperti mengetahui begitulah caramu menyembunyikan perasaan yang tak bisa kamu nyatakan. Menuliskannya sulit, memikirkannya tak pernah mudah, apalagi menyatakannya. Aku tahu kita sama-sama menderita. Kita sama-sama terlalu rindu. Kita sama-sama menyedihkan. Ah sayangku..
Aku menemukan kamu di halaman-halaman buku jurnalku. Ada jejak senyummu yang samar. Aku yang merasa begitu bodoh dan mudah leleh akan bantuanmu yang tulus. Surat-surat cinta yang tak sempat ku kirim, tak pernah tega barangkali juga terlalu kalut. Surat-surat cinta itu menjelma kisah fiksi, kamu pernah membacanya tanpa seizinku dan berkata : haduuhh gw lemes dan sesek bacanya. Kamu barangkali tak sempat menduga bahwa itu adalah kamu, barangkali kamu telah menduganya dan memilih untuk seolah meniadakan segalanya. Kita sama-sama menyedihkan.
Tulisan-tulisan itu, pengembaraan itu, selalu kamu pemicunya. Aku selalu membayangkan diriku semesta kosong tak berhingga, dan kepalaku adalah galaksi yang kecil dan sempit, yang tak pernah cukup dan muat untuk segala pengertian. Aku melihat diriku sendiri dalam gambar bergerak, yang lintasannya kadang cepat kadang lambat : menunggumu tahu ada aku di sini.
Aku membolak-balik halaman-halaman buku jurnalku, membaca ulang fiksi-fiksiku. Menertawakan diri sendiri ketika hanya itu yang dapat kulakukan saat ini. Menemukan sebaris kalimat dari jejak dirimu yang pernah singgah dalam hidupku. Tulisan tangan itu milikmu, dengan spidol warna-warni dan emoticon smiley. Kamu menulis : hei.. kamu apa kabar J
Kalimat itu selalu terasa menyentak dari dasar hati. Kamu apa kabar?
Setumpuk kertas berhamburan lepas dari sela halaman buku jurnal. Aku menemukan tiket-tiket pertunjukan Festival Film Eropa di Goethe Institute. Bulan itu kita tidak pernah absen menghadiri festival film tersebut. Sesudahnya kita makan di warteg tak jauh dari Goethe. Tempatnya terlalu sempit, makanannya terlalu asin meski menu makanannya agak lebih baik ketimbang warteg yang sering kudatangi.
“Dulu gue gak bisa makan warteg. Pasti besoknya gue mencret. Pas jaman kuliah gw kelayaban sana sini, jadi volunteer di sana sini. Gw ketemu orang-orang yang tidak sama dengan kawan-kawan sepermainan gw sebelumnya. Gw lihat kawan baru ini makan cuma nasi kuah pake sambel dan kerupuk, gak mungkin gw selalu memilih makan hokben dan sejenisnya seharga tigapuluhribu sekali makan, meski gw bisa traktir setiap orang yang ketemu gw. Buat gw ini mencengangkan waktu pertama kali lihat. Menyadari betapa ada sesuatu ketegangan yang harus gw alami.” 
Suaramu melunak ketika berujar, “Sori..gw gak bermaksud sombong. Itu satu-satunya kebanggaan yang gw miliki malah. Bisa nelen nasi dengan kuah dan sambel. Kadang-kadang mereka yang sempat mengenal gw melabelkan gw sebagai perempuan yang menyebalkan dan manja karena gw gak terbiasa makan di pinggiran jalan, kulit terlalu sensitif, dan pusing kalau kepanasan. Mereka semena-mena ketika melabelkan gw manja. Gw selalu merasa misfit dan misplaced. Terasing itu rasanya gak nyaman banget. Menurutmu ini terjadi karena umurku yang terlalu muda atau di setiap lapisan umur, gap selalu ada? Kenapa ya kita terlalu mudah untuk menghakimi. Apakah gw salah ketika orangtua gw bisa memfasilitasi itu? Mereka gak tahu bahwa gw berusaha begitu keras untuk memahami mengalami menjadi orang lain. Eh..sori..sori, abaikan gak penting.”
Aku menatapmu dalam-dalam.
Lo ada acara gak? Naik kereta yuk.
Malam-malam begini?
Memangnya kenapa?

Aku mengingat pertemuan pertama kita. Kamu memotret ke sana ke mari dengan kamera canggihmu. Kemudian tiba-tiba saja kita duduk bersebelahan. Mbak Retno project director kita memintamu memindahkan hasil foto-foto ke laptopnya.
“Bagus-bagus foto-fotonya, mbak jago, ” ujarku tulus.
“Eh..bukan saya yang jago mas, kameranya yang canggih.”
“Mahal ya mbak kameranya? Seharga motor itu pasti, mungkin lebih.”
“Umm..duhh..saya bilang saya jago aja deh yaa..hahahhaa.”
Kamu benci dipuji. Kamu menyembunyikan hal-hal hebat dalam dirimu yang terus menerus membikin aku kagum, kamu akan menyatakan : masaakk begitu doank hebat, biasa banget kaliii.... Kamu suka sibuk, apapun yang dapat membuat harimu penuh dan lelah. Mencarikan donator bagi panti jompo, rumah singgah, panti asuhan. Membikin acara donor darah, menyediakan diri sebagai relawan pada hotline telepon yang memberikan penghiburan bagi orang yang bersedih, relawan bagi hewan-hewan langka, relawan bagi perempuan korban kekerasan.
Tujuh hari itu tiba-tiba saja kita mengobrol sangat banyak di sela-sela pekerjaan. Tiba-tiba saja kita merasa seperti kawan lama. Aku memperhatikanmu, menikmati memandang dirimu. Kamu yang menggelung rambut dengan sumpit.
Aku selalu merasa kamu seperti cantelan baju, apapun pantas di tubuhmu. Pakaian-pakaian vintage, kaos oblong dan tali bra yang kamu perlihatkan, sepatu converse dan celana jins atau rok jins warna donker. Ransel yang tak pernah kamu lepaskan.Tas kamera besar dan tripod kamu sandangkan di bahu kiri. Kamu yang malas ke toilet dan meminta izin di depanku untuk berbasuh dengan tissue basah, bedak bayi dan cologne wangi buah-buahan.

Bau itu sosial, tau gak ! Ujarmu. 
Lalu kamu bercerita mengenai bau. Kamu bilang terganggu dengan orang-orang yang bau.
“Gw sama sekali gak bermaksud merendahkan siapapun yaa. Tapi gw memang bermasalah dengan bau tubuh. Gw pernah punya banyak kawan yang bersemangat tinggi tapi gak sempat memikirkan masalah bau tubuhnya. Gw tahu diantara mereka banyak yang tidak punya cukup uang untuk bertahan hidup di Jakarta. Ini serius lho..beneran lho. Mereka yang semangat belajarnya tinggi sampai dapet beasiswa dari kampusnya dan masih harus mikirin bagaimana bertahan hidup sehari-hari. “
“Gw salut banget dengan mereka. Kalau denger cerita mereka suka ngenes, awalnya gw gak percaya, kok hidup se-epic itu. Tapi beneran lho..serius lho. Uang untuk bertahan hidup serba terbatas. Mereka gak bisa mengandalkan dapat uang perdiem selama volunteering, kalau sudah mentok mereka ngamen untuk sekedar makan hari ini. Kebayang kan aktifitas mereka yang padat karena butuh untuk tahu, untuk nambah pengalaman dan wawasan, pergi sana-sini, banyak jalan kaki, gak pakai deodorant dan parfum. Mereka jelas bukan pemalas. Gw respek banget justru sama mereka, ketimbang sama kawan kuliah gw yang serba dangkal dan jadi shop display!”
“Mereka ini jarang cuci baju pakai deterjen karena harus memilih antara makan atau yang lain. Mandi aja kadang basuh air aja, jarang sabunan, apalagi keramas. Gw tau banget karena abis mandi mereka justru tambah kecut dan ledis. Cuci baju cuma pakai air, keringet pada nempel semua, begitu kering ya Tuhan baunya. Tadinya gw bingung mau bilang gimana. Gw gak pernah tahu sebelumnya kalau orang beli detergen itu pake duit. Pacar gw selalu komplain kalau gw bau keringet dan matahari. Dia selalu memarahi gw dan meminta gw untuk selalu mandi sebelum ketemu dia.”
“Oneday..ada pertemuan dengan orang penting. Sumpah gw gak ngerti kenapa orang itu disebut penting. Anyway, dalam ruang ber-AC itu suasana jadi serba gak nyaman karena aroma busuk tubuh itu mengisi satu auditorium besar. Mau negor gak enak, tapi beneran gw mau muntah. Ada yang istimewa hari itu, orang yang disebut penting itu, yang dihormatin sampai ajudannya selalu bilang ‘menurut bapak komisaris blablahblah’  duduk bersebelahan dengan teman-teman gw itu. Mampus lo, batin gw...eneg..eneg..deh lo. Dan itu adalah hari tergembira dalam minggu itu, beneran!”
Kamu tidak pernah sedikit bicara. Omonganmu selalu banyak dan meletup-letup. Lucunya aku tidak terganggu. Aku menjadi fans-mu nomer satu, kamu beruntung, kamu tidak kehilangan pendengar. Aku justru ingin mengenalmu dalam-dalam, luas-luas.
“Ngeselin itu datang untuk nonton konser gratisan di pusat-pusat kebudayaan dan terganggu dengan body odor orang lain. Gw mengharapkan bisa menonton dengan nyaman, sudah menyediakan diri jauh-jauh hari untuk meluangkan waktu nonton pertunjukkan itu, eh..harus nahan mangkel.Gak semua orang tahan sama bau badan orang lain.”
“Sekarang gw sudah terbiasa, dulu egois banget. Dan mendumel tiap waktu, kenapa sih orang lain kok bisa egois dengan membiarkan orang lain gak nyaman, kok gak menimbang perasaan orang lain, enggak jaga kebersihan diri, kok aku yang harus memaklumi mereka.”
 “Itulah yang gw sedihkan terhadap diri gw sendiri, gw jadi gak bebas nilai kan. Justru gw yang egois dan gak mikirin orang lain. Gw menaksir dan menjatuhkan sangkaan, padahal gw mati-matian menolak pelecehan dan penghinaan. Berusaha memaklumi itu gak gampang tau.”
“Gw tidak lagi menghindari mereka yang bau. Gw tahu bahwa setiap kita memang gak mungkin sama dan gak harus jadi sama.”
Setelah itu kita sering bertemu, menonton pertunjukan-pertunjukan gratis yang disediakan Jakarta, atau dirimu yang selalu punya free pass dan mengajakku bergembira. Pagelaran musik, opera, tarian, festival film-film bermutu, pameran foto. Kamu dan teman-temanmu segudang, aku yang sering sendirian. Berbulan-bulan bertahun-tahun berteman dengan teman-temannya teman. Kamu yang nyaman dengan siapa saja. Senyummu dan bantuanmu yang tulus, candaanmu yang kasar, dirimu yang menarik.



Kamu yang selalu berusaha membikinku nyaman ketika harus berkumpul dengan kawan-kawan mainmu dengan biaya bergaul yang tak bisa dibilang sedikit. Kamu yang begitu pengertian dan tak ingin mempermalukanku. Suatu hari kamu mengajakku menonton film di Plaza Senayan, kamu memenangkan 2 tiket premierre dari majalah. Ternyata kita bertemu kawan-kawan mainmu dan kamu tak menolak ajakan kumpul-kumpul itu. Kamu justru menolak membeli segelas jus seharga tujuhpuluh lima ribu di sebuah restoran ala cowboy di depan teman-temanmu dengan berujar : gw beli tu buah di pasar buah barito harga segitu, mencret besok pagi. Pada moment itulah aku merasakan dirimu tulus dan lurus. Aku bersedih untuk diriku, kamu mengutip horoskop dari yahoo ketika menemukan kalimat : teman adalah keluarga yang kita pilih. Aku tak merasa masuk dalam kriteria tersebut.
Kamu suka mengulang kata-kata Bjork : if travel is searching and home what’s been found, i’m not stopping, i’m going hunting, i’m the hunter.

Kamu menginginkan hidup yang penuh, kamu jijik pada mereka yang sok suci, kamu yang tidak menolak bergembira, kamu suka  menonton film porno, kamu suka menuliskan adegan apa yang kamu inginkan untuk menjadi dan seringkali sangat serius ketika berkata pokoknya gw gak mau dipaksa-paksa. Kamu berimajinasi ingin ditaklukkan dan menjadi terlalu angkuh di hidup yang kamu jalani.

Aku melihat kamu menikmati jadi diri sendiri, merayakan hidup. Kamu tidak membawa kendaraan pribadi karena ingin berbagi rejeki dengan yang lain. Kamu selalu bilang menyukai kemacetan di Jakarta karena memberikanmu kesempatan berimajinasi. Kamu bilang mereka yang membenci kemacetan adalah orang yang tidak bahagia. Orang bahagia tidak kehilangan imajinasi, waktu mereka berharga karena tidak menunda-nunda. Kamu suka ketika bersama dengan orang yang kamu tunggu-tunggu kehadirannya, sekedar bersentuhan kulit dan merekatkan dekapan, mengendus harum keringat orang yang kamu sayang di dalam bis kota, berbagi cheesecake yang tak terbeli bagiku di dalam taksi.  Kamu tidak suka diatur waktu meski selalu datang tepat waktu.

“Itu terjadi karena gw bukan orang kantoran yang harus kerja nine to five, coba kalau gw jadi mereka, gak akan gw sebahagia hari ini, menguras energi dan emosi banget hidup di ibukota.”
Kamu mendaur ulang pakaian-pakaianmu karena kamu percaya kebutuhan fashion dan pakaian baru menghabiskan air di bumi. “Kalau buka lemari baju gw teringat film The Matrix, dengan pakaian serba compang-camping. Kilasan masa depan itu membikin hati gw terpanggil untuk membuat sebuah perubahan kecil bagi diri sendiri.  Seandainya dalam satu tahun gw betul-betul tidak perlu membeli pakaian baru. Seandainya setiap minggu gw bisa membuat pakaian refashion, maka dalam setahun gw telah menghemat limapuluhdua baju. Kalau gw lakukan itu sampai lima tahun ke depan, kalau ada seribu perempuan melakukannya juga. Muluk-muluk sih..tapi gw suka membayangkan bumi yang lebih hijau tempat anak gw besok-besok bisa berlarian mengejar kupu-kupu, menyentuh putri malu dan mengumpulkan embun dalam mangkuk daun.”
Kamu selalu membawa bekal sayur kukus dan buah-buahan potong. Kamu selalu sedia perlengkapan basuh tubuh, kamu jarang bermake-up. Kamu tidak lagi pacaran dan ngedumel , belom jadi suami aja udah ngatur..ellah kayak idup lo beres aja!! Aku yang mengamati bahwa kamu jarang pergi dengan pacarmu ketika kita bersama.
“Pacar gw gak tertarik dengan apa yang gw suka. Jalan sama dia itu cuma pergi ke mall,nonton bioskop, nemenin dia futsal, berenang, karaoke,nemenin dia kondangan, nemenin papanya ke bengkel, nemenin mamanya ngapain kekkk, makan di restoran satu keluarga besar tiap minggu,semua yang ngeluarin duit banyak . Gw gak keberatan keluar duit tapi sumpah ngebosenin banget hal macem itu. Gak ada satukali pun dia ikut kegiatan yang gw suka, well dia juga suka pelayanan sih sama gw, ngajar musik, ngajar matematika ke anak jalanan, tapi ya gitu..karena orang kantoran waktu dia gak sefleksibel gw yang sengaja jadi nganggur..hahahaa...ya udah lah yaa dulu gw bahagia sama dia..putus juga baik-baik karena gw gak mau jadi penghalang dia..sedih sih emang, tapi ya udahlah yaa..ehh sori..sori..abaikan..gak penting..”
Kamu jengah dengan pemuda apatis dan perempuan dangkal, karena kehilangan greget untuk merayakan hidup, karena berlebihan dan mendramakan setiap persoalan yang mereka hadapi. Suatu hari kamu menabung untuk pergi ke Bali, kamu betul-betul niat dengan rencanamu, membawa oleh-oleh mug bikinan Joger yang bertuliskan : minimal jangan nyusahin orang, ke teman-teman kelasmu, sekitar 40 orang.
Aku tanya mengapa kamu melakukan itu. Dengan ringan kamu menjawab kenapa enggak. Beberapa hari setelahnya kamu seperti hendak menjelaskan motifmu dengan berkata gw bukan hero, tapi setiap orang perlu masukan dari luar kan.
Minimal setiap kali ada orang minum dengan mug itu, mereka tersentil sedikit dan mau berjuang bagi dirinya sendiri, kamu tahu, hal-hal menjijikkan sebetulnya kan gak perlu rumit-rumit dicari dari luar. Di sini, di dalam sini selalu ada yang busuk-busuk, ujarnya menunjuk diri sendiri.
Aku teringat matamu berkedut setiap kali mendengar berita tentang busuk-busuk negeri ini. Bagimu mereka yang memakan uang rakyat, membunuhi rakyat adalah busuk terbusuk, kamu mual terhadap mereka, apalagi keadilan seperti bandul jam. Kamu juga jengah pada mereka yang berbuat seolah Tuhan mengijinkan adanya pembantaian dan pemusnahan, Tuhan yang mereka bela mati-matian. Setiap orang pasti menunggu mati, mengapa selama menunggu itu kita menyibukkan diri dengan membunuhi orang lain, siapakah kita sebenarnya, begitu ujarmu geram.
Dulu gw kagum sama Tuhan, sekarang biasa aja, dan kalau gw gak sengaja ngucap begini, mereka suruh gw ke gereja, katanya gw harus bertobat. Apa-apaan deh, urusan gw sama Tuhan itu betul-betul urusan gw, sesuatu yang intim, kaya sekaligus rumit dan ambivalen. Ngatur banget. Mereka pasti terlalu mencintai aku, sehingga aku dipaksa untuk pergi sama-sama, pokoknya harus sama. Ketakutan untuk pisah rombongan, mereka terlalu risau. Kita dikepung dari segala arah untuk jadi sama, kalau tidak maka kita pendosa, tak layak masuk surga. Mereka kelewat peduli pada nasib kita.
Gimana sama idup lo?
“Gw hidup merantau. Pernah mengamen untuk menyambung hidup, persis seperti kawan-kawan yang pernah kamu ceritakan dulu, jadi ini bukan cerita hebat sebetulnya. Pernah juga keliling perkampungan Jakarta untuk jadi tukang roti keliling. Pernah bekerja di pabrik roti rumahan sampai tangan melepuh kena api pembakaran. Pernah juga dituduh menghamili seorang perempuan , diusir, dan berusaha tetap hidup.”
“Dari kecil gw suka membaca buku, tapi sampai hari ini gak selalu punya dana untuk memiliki buku sendiri. Gw mencatat buku-buku yang ingin dikoleksi hanya untuk merasa hidup. Lewat hidup gw tahu bahwa orang baik dan jahat itu bertebaran di mana-mana, gak ada hati yang murni malaikat. Gw numpang hidup berkat kebaikan banyak orang, gw banyak dibantu mereka yang iba pada gw, awalnya sangat malu dan rikuh, karena gw bukan pengemis, untuk membalas budi yang gw bisa cuma tukar tenaga aja.”
“Kata orang kita harus punya mimpi. Kadang-kadang gw gak tahu harus memimpikan apa lagi. Hidup gw ini seperti daun kering jatuh di aliran sungai. Kekuatan dan daya gw terbatas, yang gw mampu adalah mengikuti ke mana arus itu bergerak. Gw gak pernah bisa nabung, hidup gw buat hari ini. Hidup harus dihadapi kan .. dan kita perlu makan. Gw jadi pembantu di sana sini. Belajar mendidik diri sendiri. Gw selalu ingin punya kebebasan waktu dan finansial, tapi kenyataannya gw selalu menunda hal-hal yang sangat gw inginkan. Gw sering ketawa kalau lihat name tag yang bertitel volunteer, soalnya gw ngerjain itu gak sepenuhnya sukarela, tapi mengharapkan perdiem, bisa numpang tidur, makan dan nambah ilmu. Beda dengan kamu yang betul-betul sukarela ketika jadi volunteer, hal-hal macam ftv lah...”

Sori gw gak sempet nonton tivi.

Gimana kabar hidup lo? Kamu menelepon setelah tiga bulan menghilang  tanpa kabar.
Sebenarnya aku masuk dalam lingkaran pertemanan nomer berapa? Tanyaku suatu kali. Kamu menunduk tersipu. Aku selalu ingin masuk dalam lingkaran nomer satu, aku selalu ingin bisa kamu andalkan, meski pada kenyataannya, bukan itu yang terjadi.
Ada sejenis kesedihan yang merasuk rongga dadaku sayang, berdenyar dan berdenyar ketika aku hanya ingin mengetahui jejakmu masih ada di bumi yang sama.
Kadang kamu menghilang dua minggu. Sebulan, dua bulan, tiga bulan, paling lama lima bulan. Lalu kamu datang dengan kehangatan dan kemesraan yang sama. Kamu sering tiba-tiba berada di beragam kota di seluruh pelosok Indonesia dan foto keberadaanmu hari itu segera terpampang di sosial media. Kamu senang memotret. Ketika pulang kamu membawa tulisan dari banyak cerita sedih yang kamu temukan sepanjang perjalanan. Kamu yang memaki diri dan bilang terlalu naif karena tidak dapat berbuat cukup banyak untuk dunia.
 Kamu selalu mengunjungiku selepas bepergian meskipun kita tidak harus bertemu, karena teknologi sudah sangat maju. Tapi seperti katamu, kamu suka yang konvensional, tatap muka – teknologi membatasi privasimu.  Aku mendengarkan kamu membacakan hasil tulisanmu, mengoreksinya di sana-sini, membantumu membuatnya jadi hidup.
Kamu yang sering tertidur di sisiku karena terlalu lelah. Aku yang menjagamu. Harum rambutmu menempel di sarung bantalku. Dirimu yang lembut dan empuk seperti bolu – aku pinjam ini dari gombalan acara lawak di televisi karena aku suka mendengarmu berteriak : Taiikk..gak mutu bangett!!
Aku merindukan kamu dan dongeng-dongeng kita yang absurd. Tentang gajah terbang yang lelah bepergian. Ada hatiku bergemuruh setiap kali memperhatikan bibirmu mencebik dan wajahmu seolah takjub ketika kita bertukar cerita. Aku menyukai kehadiranmu sayang, cara kita mengatakan ada aku di sini. Aku mencintai keseluruhan dirimu. Kamu membantuku dengan caramu yang sederhana, menularkan hidupmu yang penuh, obrolan-obrolan hangat dan nyampah, cerita yang semarak dan meletup-letup, juga tentang kesedihan dan hidup. Kamu betul-betul membikin aku tahu ada sepenggal dunia yang bisa dijelajahi. Memurupkan keinginanku untuk terus bertahan hidup.
Kita yang menghabiskan malam bersama hanya untuk bercerita sambil minum kopi atau colafloat yang sangat kamu gemari. Kamu membaca buku yang satu aku membaca buku yang lain. Haruki Murakami, Tracy Chevalier, Malcolm Gladwell,  menghantarkan malam-malam kita bersama. Kamu yang mencekokiku dengan the Beatles, Joe Hisaishi, Neri Per Caso, Regina Spektor, Nina Simone, dan Sigur Ros.
Tetapi ada masanya aku tidak kuat memandang dirimu, ada hasrat menyelinap, ketika tatapanmu berubah jadi dalam. Kamu menyiksaku seringkali dengan sikapmu sebagai sahabat.
Beberapa kali kamu mengucap, “ Kalau lo lagi isi, lo mesti bilang lho yaa.. gw gak mau cewek lo kenapa-kenapa.”  Justru karena itu aku bersedih.
Di bulan Desember ini kamu menangis. Kamu datang setelah berbelanja keperluan pesta di bulan harum kayumanis dan kamu begitu gundah. Kamu bilang meskipun hidupmu bebas, dirimu tidak jadi milikmu sendirian ternyata, masih ada bapak dan ibu yang harus kamu hormati tanpa keraguan. Mereka yang bahagia karena dirimu menemukan kebahagiaan sekaligus khawatir dan bersedih akan petualangan hidupmu, mereka yang masih menyimpan mimpi ingin kamu berkeluarga, menikah dengan laki-laki seiman, berpendidikan dan memiliki kehidupan.

Lo gak pacaran lagi?
Males.
Romance-romance kecil gak ada?
Gak bikin hati gw lega juga, hubungan singkat macem gitu, ngedate sekali dua selesai, capek.
Lohh..
Gak usah bahas yang itu deh..lagi gak mood.  Kita pergi aja yuk..bosen.

Hari itu kita jadi juga naik kereta. Kita menunggu di stasiun sampai pagi, kamu tak tahu ingin pergi ke mana hari itu, biasanya kamu tahu mau pergi ke mana. Kita sudah terlalu lama di stasiun, buruan beli tiket biar lekas pergi, ujarmu merajuk. Akhirnya kita berangkat ke Jogja. Keretanya dingin tapi kamu berpeluh. Kamu memelukku sepanjang jalan..cengkeramanmu terlalu kuat, aku tahu sedihmu luar biasa kali itu. Aku membiarkanmu memelukku, aku mendengarmu tersedu, tak pernah lebih pilu dari waktu-waktu lalu.  Kamu terlalu lelah ketika kita tiba di Jogja. Kita beli baju-baju murah di pinggir jalan.
Kita tinggal di kost seorang kawan, kebetulan masa itu libur semesteran, dia sedang pulang ke Solo sehingga kamarnya bebas kita gunakan. Malam itu kita berciuman sepanjang malam. Kecup-kecup kecil yang melenakan. Kita tidak lagi terburu dan memburu. Aku ingin merasai kamu, begitu ujarmu, hari ini saja, kumohon..
Berminggu-minggu ini perasaanmu tertekan, kamu kebingungan dan bersedih. Kamu menuturkannya dengan lugas, aku mengerti, meskipun penjelasanmu membikin hatiku sama-sama pahit, sama merasa tak berdaya, sama merasa cinta tak datang tepat waktu. Aku mengerti, karena aku menyayangimu, karena luka itu juga harus ditanggung bersama.
Kamu bilang hidupmu tersiksa membayangkan apa yang seharusnya kamu lakukan tapi kamu tahan-tahan, kamu tidak lagi mau membohongi hatimu, menindihnya dan membuatnya tambah parah.  Kita sama-sama menginginkan meskipun sesampainya di Jakarta, kita harus berhenti. Kamu harus maafin aku, jangan hakimi aku, begitu syaratmu waktu itu. Aku mencintaimu sepanjang waktu, kataku.
Aku memasukimu. Kamu memintanya berulangkali selama lima hari. Bagaimana mungkin aku menolakmu. Setelah empat tahun lebih kita saling menjaga.
Sepanjang tahun aku mengamati kita berubah, dari waktu ke waktu. Kita yang tak lagi tersedot dalam drama remaja dan memaknai pertanyaan apakah kamu berduka ditinggal, dengan sejenis kesedihan yang baru, yang lebih dalam dan susah sembuh.
Aku menemukan robekan tiket pertunjukkan Ananda Sukarlan lama berselang. Kamu memaksaku dulu itu untuk menemanimu menonton konser Ananda Sukarlan di Erasmus Huis. Kamu yang menangis sepanjang pertunjukkan. Konser itu luar biasa menarik memang, musikalisasi puisi yang menakjubkan, yang membikin diriku bergetar. Sepanjang perjalanan pulang kamu memelukku di dalam taksi dan menyanyikan sebait lagu dalam suaramu paling lirih. Kamu menuliskan sebait puisi itu untukku, di balik robekan tiket : Dalam doaku – Aku mencintaimu, itu sebabnya aku tak akan pernah selesai mendoakan keselamatanmu – Sapardi Djoko Damono.



Sesak itu tidak hilang-hilang.
Kita barangkali masih di bumi yang sama. Masih saling mendoakan.